Tags

Related Posts

Share This

Segenggam darah

Segenggam darah
mengair di tengah
dua bukit

meronta
menyeruak

menari-nari
kepalanya

dunia
aku datang

sambut aku
dalam nestapamu

ada hitam
ada hijau
ada biru
ada kelabu

namun merah
tetap sumberku

berkali-kali
ku katakan padamu

jangan kau ingkari
darahmu

kenapa kau berpaling
menuju padang pasir
nan gersang di sana

kenapa kau berpaling
pada logam mulia
di negri dongeng
tanpa makna

kenapa kau ingkari
segenggam darah dalam himpitan
segitiga sang Bunda

aku hanya segenggam darah
jangan kau tipu aku dengan
muslihat kenastapaan
di mana surga menjadi
dewata sirna

dimana dewi-dewi
menelanjangi tubuhku
dan menungkan madu
kemudian bidadari menjilatinya

aku hanya segenggam darah
tidak lebih dan hanya itu

segenggam darah
dengan nurani
kembali ke pangkuan

rahim sang dewi welas asih
dan bangsa sedarahku

menyebutnya Pertiwi



free counters

OE Colloge E Learning Web Design Murah Blogger Design Wordpress Web Design