Tags

Related Posts

Share This

Si Anak Nelayan

Aku adalah seorang anak nelayan di tepi pesisir. Ayahku seorang nelayan penangkap ikan-ikan di laut, sampai saat ini ayah masih saja mempertahankan pekerjaaannya sebagai nelayan. Penghasialannya sangat kecil. Hanya mengandalkan perahu reot kecil, ayah tengah malam pergi menangkap ikan, kembali saat pagi tiba.

Namun sayang beribu sayang saat ini tangkapan ayah hanya sampah-sampah hasil limbah rumah tangga, pabrik dan entah dari mana lagi datangnya sampah-sampah itu. Ayah tidak mengeluh ayah hanya marah kenapa alam seindah ini di kotori oleh tangan-tangan jahil. Ayah bercerita padaku dahulu betapa gagahnya dia ketika pergi menangkap ikan, tapi sekarang Ayah hanya pengumpul sampah-sampah buangan itu.

Tidak-tidak ayah tidak mengeluh, ayah hanya marah. Pernah sempat terbesit pikiran dalam benak Ayah untuk alih profesi menjadi kuli bangunan mengikuti teman-temannya. Namun selalu ayah urungkan alasannya hanya satu “aku seorang nelayan dan akan mati sebagai nelayan”. Begitu prinsipnya.

Sambil pergi menyiapkan perahunya yang reot, aku mendekati ayah dan berkata. “Yah pergi menangkap ikan lagi sekarang ??”. Ayah hanya tersenyum dan berkata “Aku akan menangkap sampah, anakku!!”.

Nelayan jaya
di ujung nestapa

penangkap ikan
dalam jaring

saat datang
saat pergi

berdayung sampan
berpeluh kesabaran

tangkapanku
saat ini sampah

hasil dari tangan-tangan jahil
tidak berperasaan, membuat ikan-ikanku mati
membuat tubuhku gatal
membuat lautku berbuih
membuat terumbu karangku hitam legam

pagi ini aku berangkat
bukan tengah malam lagi
ku bersihkan dengan hatiku
orang-orang mengatai aku
nelayan gila

karena

tangkapanku
saat ini sampah

seandainya aku ingin mengeluh
akan ku katakan ini salah kalian
namun aku diam, hanya melaut

dan menangkap sampah

Rempoa, 22 Maret 2011

  • Selamat Hari Air Sedunia (World Day for Water)


free counters

OE Colloge E Learning Web Design Murah Blogger Design Wordpress Web Design